Jumat, 02 November 2012


MENGENAL KEWIRAUSAHAAN


A.      Definisi
            Menurut Acmad Sanusi (1994), kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis. Menurut Soeharto Prawiro (1997), kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth). Menurut Saidi dan Hartati (2008), kewirusahaan merupakan proses penciptaan sesuatu yang baru pada nilai menggunakan waktu dan upaya penelitian, menanggung resiko keuangan, fisik, serta resiko sosial yang mengiringi, menerima imbalan moneter yang dihasilkan, serta kepuasan dan kebebasan pribadi.
Kesimpulan:
            Kewirausahaan adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang yang membutuhkan tenaga, uang, serta pemikiran yang kreatif dan inovatif untuk mencapai tujuan yaitu kepuasan dan kebebasan dalam melakukan pekerjaan (Wicaksono, 2012).

Zaman dulu kewirausahaan merupakan urusan pengalaman langsung di lapangan. Namun kewirausahaan itu bukan hanya merupakan bakat bawaan sejak lahir, namun kewirausahaan dapat dipelajari dan diajarkan. Dipelajari melalui proses pendidikan dan diajarkan melalui proses pendidikan formal atau informal. Menurut Suyana (2009:2) bahwa “Entrepreneurship are not only born but also made” artinya kewirausahaan tidak hanya bakat bawaan sejak lahir atau urusan pengalaman lapangan, tetapi juga dapat dipelajari dan diajarkan.
Objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan seseorang yang diwujudkan dalam bentuk perilaku. Menurut Soparman Soemahamidjaja (dalam Suryana, 2009:4) bahwa kemampuan seseorang yang menjadi objek kewirausahaan meliputi:
·         Kemampuan merumuskan tujuan hidup/usaha. Dalam merumuskan tujuan hidup/usaha tersebut perlu perenungan, koreksi yang kemudian berulang-ulang di baca dan diamati sampai memahami apa yang menjadi kemauannya
·         Kemampuan memotivasi diri untuk melahirkan suatu tekad kemauan yang menyala-nyala
·         Kemampuan untuk berinisiatif yaitu mengerjakan sesuatu yang baik tanpa menunggu perintah orang lain, yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan berinisiatif
·         Kebiasaan berinisiatif yang melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah dibiasakan berulang-ulang akan melahirkan motivasi. Kebiasaan inovatif adalah desakan dalam diri untuk selalu mencari berbagai kemungkinan baru atau kombinasi baru apa saja yang dapat dijadikan piranti dalam menyajikan barang dan jasa bagi kemakmuran masyarakat.
·         Kemampuan untuk membentuk modal uang atau barang modal
·         Kemampuan untuk mengukur waktu dan membiasakn diri untuk selalu tepat waktu dalam segala hal tindakannya melalui kebiasaan yang selalu tidak menunda pekerjaan
·         Kemampuan mental yang dilandasi dengan agama
·         Kemampuan untuk membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari pengalaman yang baik maupun yang menyajikan

B.      Ciri-ciri Kewirausahaan
Banyak para ahli yang mengemukakan karakteristik kewirausahaan dengan konsep yang berbeda-beda. Geoffrey G. Meredith (dalam Suryana, 2001:8) misalnya mengemukakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan seperti berikut:



Ciri-ciri
Watak
1.      1.      Percaya diri

1.      2.      Berorientasi pada tugas dan hasil




1.      3.      Pengambilan resiko

1.      4.      Kepemimpinan


1.      5.      Keorisinilan

1.      6.      Berorientasi ke masa depan
Keyakinan, ketidaktergantungan, individualitas, dan optimisme
Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras mempunyai dorongan kuat, energetik dan inisiatif
Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan
Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik
Inovatif dan kreatif serta fleksibel
Pandangan ke depan, perspektif


Beberapa ciri kewirausahaan secara ringkas dikemukakan oleh Vermon A musselman, Wasty Sumanto dan Geoffrey Meredith (dalam Suryana, 2009:10) yaitu: (1) keinginan yang kuat untuk berdiri sendiri,
(2) kemauan untuk mengambil risiko,
(3) kemampuan untuk belajar dari pengalaman,
(4) memotivasi diri sendiri,
(5) semangat untuk bersaing,
(6) orientasi pada kerja keras,
(7) percaya pada diri sendiri,
(8) dorongan untuk berprestasi,
(9) tingkat energi yang tinggi,
(10) tegas,
(11) yakin pada kemampuan sendiri,
(12) tidak suka uluran tangan dari pemerintah/pihak lain di masyarakat,
(13) tidak tergantung pada alam dan berusaha untuk tidak menyerah pada alam,
(14) kepemimpinan,
(15) keorisinilan, dan
(16) berorientasi ke masa depan dan penuh gagasan.

Menurut M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (dalam Suryana, 2001:10) mengemukakan karakteristik kewirausahaan yang berhasil, diantaranya memiliki ciri-ciri:
·         Proaktif, yaitu berinisiatif dan tegas
·         Berorientasi pada prestasi, yang tercermin dalam pandangan dan bertindak terhadap peluang, orientasi efisiensi, mengutamakan kualitas pekerjaan, berencana, dan mengutamakan monitoring
·         Komitmen kepada orang lain, misalnya dalam mengadakan kontrak dan hubungan bisnis
Secara eksplisit, Dan Steinnhoff dan John F Burgess (dalam Suryana, 2001:10) mengemukakan beberapa karakteristik yang diperlukan untuk menjadi wirausaha yang berhasil, yaitu:
·         Memiliki visi dan tujuan yang jelas
·         Bersedia menanggung risiko waktu dan uang
·         Berencana dan mengorganisir
·         Kerja keras sesuai dengan tingkat urgensinya
·         Mengembangkan hubungan dengan pelanggan, pemasok, pekerja, dan yang lainnya
·         Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan
Menurut Suryana (2001:14) ada empat nilai dengan orientasi dan ciri masing-masing yaitu:
·         Wirausaha yang berorientasi kemajuan untuk memperoleh materi, ciri-cirinya pengambil risiko, terbuka terhadap teknologi, dan mengutamakan materi
·         Wirausaha yang berorientasi pada kemajuan tetapi bukan untuk mengejar materi. Wirausaha ini hanya ingin mewujudkan rasa tanggung jawab, pelayanan, sikap positif, dan kreativitas
·         Wirausaha yang berorientasi pada materi, dengan berpatokan pada kebiasaan sudah yang ada, misalnya dalam perhitungan usaha dengan kira-kira, sering menghadap ke arah tertentu supaya berhasil
·         Wirausaha yang berorientasi pada non=materi, dengan bekerja berdasarkan kebiasaan, wirausaha model ini biasanya tergantung pada pengalaman, berhitung dengan menggunakan mistik, paham etnosentris, dan taat pada tata cara leluhur



DAFTAR PUSTAKA

Suharyadi., Nugroho. A., Purwanto., & Maman. F. Kewirausahaan Membangun Usaha Sukses Sejak usia Muda. Salemba Empat: Jakarta
Suryana. 2001. Kewirausahaan. Salemba Empat: Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar