CERITA TENTANG TUKANG KULI BANGUNAN
Disini penulis akan
menceritakan tentang carut-marutnya kehidupan si tukang kuli bangunan. Siapa
sih tukang kuli bangunan? Ya tukang bangunan adalah sosok atau figur seseorang
yang bertahan hidup dengan melakukan kerja kasar, hehe. Okeh emang agak lebay
sih, jadi tukang kuli bangunan itu yang membuat atau merenovasi rumah kita.
Banyak yang masih memandang mereka sebelah mata atau antara ada dan tiada
(apasih). Lansung aja kita mulai pembahasannya tentang mereka, cekidot.
Kita jabarkan dulu
profil si tukang bangunan tersebut mulai dari nama sebut saja dia “Rohman” hehe
biar kaya berita-berita di televisi gtu, pake “sebut saja namanya” padahal
emang namanya Rohman. Dia berumur 30 tahun bekerja sebagai tukang bangunan sudah
15 tahun yang lalu, berarti sejak dia berumur 15 tahun sudah bergelut dibidang
perkulian yahh. Sungguh miris mendengar cerita ini, diumur yang dibilang masih
cukup belia ia harus bekerja keras untuk mencari nafkah, namun disisi lain banyak
anak seusia tersebut yang masih duduk dibangku sekolah tapi tidak dimanfaatkan
dengan baik. Beliau tinggal didaerah Jawa Barat, anak ketiga dari lima
bersaudara. Istri baru satu anak tiga, anak pertama SMP kelas 3, yang kedua SD
kelas 4, yang terakhir usianya baru 2 tahun.
Sejak umur 15 ia
bekerja bukan sebagai tukang namun sebagai kenek (bukan yang diangkot yaa),
kenek adalah istilah untuk kuli pembantu tukang, jadi kerjaannya hanya
ngangkatin batu, ngaduk semen. Kalo tukang kan kerjaannya masang sama
ngerancang bagaimana baiknya buat bangunan tersebut. Sebagai kenek memang lebih
murah bayarannya, makanya dia sebagai kenek terus melihat, mempelajari apa yang
diperbuat oleh tukangnya, akhirnya dia menjadi apa yang ia cita-citakan yaitu
jadi tukang bukan lagi sekedar kenek, hasheeg.
Lebih jauh lagi
mengenai pekerjaan beliau yang agak sensitive, yaitu pendapatan kita itung
bareng-bareng ya. Satu hari ia bekerja dibayar Rp. 70.000,00 tanpa makan, tapi
klo dapet makan Rp. 60.000,00, lain tukang lain kenek satu hari Rp. 50.000,00
tanpa makan dan RP. 40.000,00 plus makan. Mendingan mana hayoo ??. Dan biasanya
dia sering dibayar Rp. 70.000,00 /hari, coba kalau dikali satu bulan 26 hari
kerja. Rp. 70.000,00 × 26 hari = Rp. 1.820.000,00 /bulan, weew lebih dari UMR
kan hehe.
Masih
kurangkah ? tentu saja namanya orang gaji besar pun masih mengeluh kurang,
Tanya kenapa ? karena semakin besar pendapatan biaya hidup pun semakin
meningkat ya kan. Kembali ke pak Rohman, ya dibilang kurang ya kurang mas, wong
saya kerja jadi kuli bangunan ga setiap hari ada kerjaan kan? Ya kalau pun ada
belum tentu satu bulan penuh, kadang hanya seminggu, ya klo seminggu cuma dapet berapa kan Rp. 350.000,00 doang. Makanya
setiap ada kerjaan saya selalu gali lobang tutup lobang, dapet uang bayar utang
mas. Kapan bapak merasakan banyaknya pekerjaan “tanya saya”, ya kalau mau hari
raya kaya lebaran, tahun baru dan musim liburan. Ya begtulah sekelumit cerita
tentang kuli bangunan. Terima kasih J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar