Jumat, 02 November 2012


CERITA TENTANG TUKANG KULI BANGUNAN


Disini penulis akan menceritakan tentang carut-marutnya kehidupan si tukang kuli bangunan. Siapa sih tukang kuli bangunan? Ya tukang bangunan adalah sosok atau figur seseorang yang bertahan hidup dengan melakukan kerja kasar, hehe. Okeh emang agak lebay sih, jadi tukang kuli bangunan itu yang membuat atau merenovasi rumah kita. Banyak yang masih memandang mereka sebelah mata atau antara ada dan tiada (apasih). Lansung aja kita mulai pembahasannya tentang mereka, cekidot.
Kita jabarkan dulu profil si tukang bangunan tersebut mulai dari nama sebut saja dia “Rohman” hehe biar kaya berita-berita di televisi gtu, pake “sebut saja namanya” padahal emang namanya Rohman. Dia berumur 30 tahun bekerja sebagai tukang bangunan sudah 15 tahun yang lalu, berarti sejak dia berumur 15 tahun sudah bergelut dibidang perkulian yahh. Sungguh miris mendengar cerita ini, diumur yang dibilang masih cukup belia ia harus bekerja keras untuk mencari nafkah, namun disisi lain banyak anak seusia tersebut yang masih duduk dibangku sekolah tapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Beliau tinggal didaerah Jawa Barat, anak ketiga dari lima bersaudara. Istri baru satu anak tiga, anak pertama SMP kelas 3, yang kedua SD kelas 4, yang terakhir usianya baru 2 tahun.
Sejak umur 15 ia bekerja bukan sebagai tukang namun sebagai kenek (bukan yang diangkot yaa), kenek adalah istilah untuk kuli pembantu tukang, jadi kerjaannya hanya ngangkatin batu, ngaduk semen. Kalo tukang kan kerjaannya masang sama ngerancang bagaimana baiknya buat bangunan tersebut. Sebagai kenek memang lebih murah bayarannya, makanya dia sebagai kenek terus melihat, mempelajari apa yang diperbuat oleh tukangnya, akhirnya dia menjadi apa yang ia cita-citakan yaitu jadi tukang bukan lagi sekedar kenek, hasheeg.
 Lebih jauh lagi mengenai pekerjaan beliau yang agak sensitive, yaitu pendapatan kita itung bareng-bareng ya. Satu hari ia bekerja dibayar Rp. 70.000,00 tanpa makan, tapi klo dapet makan Rp. 60.000,00, lain tukang lain kenek satu hari Rp. 50.000,00 tanpa makan dan RP. 40.000,00 plus makan. Mendingan mana hayoo ??. Dan biasanya dia sering dibayar Rp. 70.000,00 /hari, coba kalau dikali satu bulan 26 hari kerja. Rp. 70.000,00 × 26 hari = Rp. 1.820.000,00 /bulan, weew lebih dari UMR kan hehe.
            Masih kurangkah ? tentu saja namanya orang gaji besar pun masih mengeluh kurang, Tanya kenapa ? karena semakin besar pendapatan biaya hidup pun semakin meningkat ya kan. Kembali ke pak Rohman, ya dibilang kurang ya kurang mas, wong saya kerja jadi kuli bangunan ga setiap hari ada kerjaan kan? Ya kalau pun ada belum tentu satu bulan penuh, kadang hanya seminggu, ya klo seminggu  cuma dapet berapa kan Rp. 350.000,00 doang. Makanya setiap ada kerjaan saya selalu gali lobang tutup lobang, dapet uang bayar utang mas. Kapan bapak merasakan banyaknya pekerjaan “tanya saya”, ya kalau mau hari raya kaya lebaran, tahun baru dan musim liburan. Ya begtulah sekelumit cerita tentang kuli bangunan. Terima kasih J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar