Minggu, 23 Juni 2013

HI-12 Pengembangan Sumber Daya Manusia



HI-12 Pengembangan Sumber Daya Manusia


A.        Pengertian Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pengembangan sumber daya manusia adalah suatu upaya untuk mengembangkan kualitas atau kemampuan sumber daya manusia melalui proses perencanaan pendidikan, pelatihan dan pengelolaan tenaga atau pegawai untuk mencapai suatu hasil optimal.1
Armstrong (1997:507) menyatakan: “Pengembangan sumber daya manusia berkaitan dengan tersedianya kesempatan dan pengembangan belajar, membuat program-program training yang meliputi perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi atas program-program tersebut”.2
McLagan dan Suhadolnik (Wilson, 1999:10) mengatakan: Pengembangan sumber daya manusia adalah pemanfaatan pelatihan dan pengembangan, pengembangan karir, dan pengembangan organisasi, yang terintegrasi antara satu dengan yang lain, untuk meningkatkan efektivitas individual dan organisasi. 2
Mondy and Noe (1990:270) mengatakan: Pengembangan sumber daya manusia adalah suatu usaha yang terencana dan berkelanjutan yang dilakukan oleh organisasi dalam meningkatkan kompetensi pegawai dan kinerja organisasi melalui program-program pelatihan, pendidikan, dan pengembangan. 2
Harris and DeSimone (1999:2) mengatakan: Pengembangan sumber daya manusia dapat didefinisikan sebagai seperangkat aktivitas yang sistematis dan terencana yang dirancang oleh organisasi dalam memfasilitasi para pegawainya dengan kecakapan yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan, baik pada saat ini maupun masa yang akan datang. 2
Stewart dan McGoldrick (1996:1) mengatakan: Pengembangan sumber daya manusia meliputi berbagai kegiatan dan proses yang diarahkan pada terjadinya dampak pembelajaran, baik bagi organisasi maupun bagi individu. 2
Kesimpulan penulis: Pengembangan sumber daya manusia adalah suatu kegiatan yang terencana dan terintegrasi antara satu dengan yang lain, yang diadakan oleh suatu organisasi dalam hal pelatihan dan pengembangan pegawai untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.

B.        Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia
            Tujuan pengembangan smber daya manusia mempunyai dua dimensi yaitu dimensi individual dan dimensi institusional atau organisasional. Tujuan yang berdimensi individual mengacu kepada sesuatu yang dicapai oleh seorang pegawai. Tujuan berdimensi institusional mengacu kepada apa yang dapat dicapai oleh institusi atau organisasi sebagai hasil dari program-program pengembangan sumber daya manusia.3
            Secara umum tujuan pengembangan sumber daya manusia adalah untuk memastikan bahwa organisasi mempunyai orang-orang yang berkualitas untuk mencapai tujuan organisasi untuk meningkatkan kinerja dan pertumbuhan (Armstrong, 1997:507). 2
Tujuan tersebut di atas dapat dicapai dengan memastikan bahwa setiap orang dalam organisasi mempunyai pengetahuan dan keahlian dalam mencapai tingkat kemampuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan mereka secara efektif. Selain itu perlu pula diperhatikan bahwa dalam upaya pengembangan sumber daya manusia ini, kinerja individual dan kelompok adalah subjek untuk peningkatan yang berkelanjutan dan bahwa orang-orang dalam organisasi dikembangkan dalam cara yang sesuai untuk memaksimalkan potensi serta promosi mereka.
Beberapa tujuan pengembangan sumber daya manusiaadalah sebagai berikut: 2
1.      Meningkatkan produktivitas kerja.
2.      Mencapai efisiensi.
3.      Meminimalisir kerusakan.
4.      Mengurangi kecelakaan.
5.      Meningkatkan pelayanan.
6.      Memelihara moral pegawai.
7.      Meningkatan peluang karier.
8.      Meningkatkan kemampuan konseptual.
9.      Meningkatkan kepemimpinan.
10.  Peningkatan balas jasa.
11.  Peningkatan pelayanan kepada konsumen.
Dengan meningkatnya kemampuan pegawai, baik konseptual, maupun teknikal, maka upaya pemberian pelayanan kepada konsumen pun akan berjalan lebih baik pula.

C.        Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
            Menurut Sastradipoera, pengembangan sumber daya manusia mencakup baik pendidikan yang meningkatkan pengetahuan umum dan pemahaman lingkungan keseluruhan maupun pelatihan yang menambah keterampilan dalam melaksanakan tugas yang spesifik. Pendidikan (education) sumber daya manusia merupakan proses pengembangan jangka panjang yang mencakup pengajaran dan praktek sistematik yang menekankan pada konsep-konsep teoritis dan abstrak. Sedangkan pelatihan (training) adalah salah satu jenis proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori.4
            Menurut Suprihanto mengemukakan pendidikan adalah suatu kegiatan untuk memperbaiki kemampuan karyawan dengan cara meningkatkan pengetahuan dan pengertian tentang pengetahuan umum dan pengetahuan ekonomi pada umumnya, termasuk peningkatan penguasaan teori pengambilan keputusan dalam menghadapi persoalan-persoalan organisasi. Sedangkan pelatihan dalah kegiatan untuk memperbaiki kemampuan karyawan dengan cara meningkatkan pengetahuan dan keterampilan operasional dalam menjalankan suatu pekerjaan. 5
            Pedidikan dan pelatihan adalah upaya mengembangkan sumber daya manusia terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Pendidikan dan pelatihan adalah proses belajar dalam rangka meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam melaksanakan tugasnya. Pelatihan yang dimaksud adalah upaya untuk mentransfer keterampilan dan pengetahuan kepada para peserta peatihan pada saat melaksanakan pekerjaan.6
Pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan haruslah yang spesifik dan latihan harus diarahkan pada perubahan perilaku yang telah diidentifikasikan. Pelatihan juga harus mempelajari keterampilan atau teknik khusus yang dapa diobservasi pada tempat tugasnya.







Daftar Pustaka
[1] Prof.Dr. Soekidjo Notoadmodjo, 2003, Pengembangan sumber Daya Manusia, Rineka Cipta, Jakarta.
[2] Http://www.stialanbandung.ac.id
[3] LAN dan DEPDAGRI, 2007, Modul 2 Pengembangan Sumber Daya Manusia Pegawai Negeri Sipil, Diklat Teknis Manajemen Sumber Daya Manusia,. Jakarta.
[4] Komaruddin Sastradipoera, 2002, Manajemen Sumber Daya Manusia: suatu pendekatan fungsi operatif. Bandung, Kappa-Sigma.
[5] John Suprihanto, 2001, Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karyawan, BPFE, Yogyakarta.
[6] Sahat Siregar, 2009. Pengaruh Pengembangan Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja Pegawai (studi kasus pada dinas perhubungan kota medan). Medan.

Selasa, 08 Januari 2013


TECHNOPRENEURSHIP


Apa Technopreneurship?
Mendefinisikan technopreneurship (technology entrepreneurship) hal yang harus perhatikan adalah penelitian dan komersialisasi.  Penelitian merupakan penemuan dan penambahan pada ilmu pengetahuan.  Komersialisasi dapat didefinisikan sebagai pemindahan hasil penelitian atau teknologi dari laboratorium ke pasar dengan cara yang menguntungkan.  Ada sejumlah jalan untuk mengkomersialisasi teknologi, yakni: lisensi, berpartner, atau menjualnya kepada pihak lain yang akan mengkomersialisasikannya.
          Teknologi merupakan cara atau metode untuk mengolah sesuatu agar terjadi efisiensi biaya dan waktu, sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih berkualitas. Dasar-dasar penciptaan tekologi adalah: kebutuhan pasar, solusi atas permasalahan, aplikasi berbagai bidang keilmuan, perbaikan efektivitas dan efisiensi produksi, serta modernisasi.
Istilah technopreneur itu sendiri adalah gabungan antara technology dan entrepreneur. Kata entrepreneur memiliki makna seseorang yang pandai atau berbakat dalam mengenali produk atau ide baru, memahami langkah-langkah produksi, mampu menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, cermat dalam memasarkannya, serta handal mengatur permodalan operasinya. Singkatnya, seorang technopreneur adalah seorang entrepreneur yang menggunakan aspek teknologi sebagai keunggulannya. Antara technopreneur dan entrepreneur keduanya memiliki persamaan yaitu peduli profit. Namun seorang technopreneur juga harus peduli teknologi. Bentuk keperduliannya itu bisa berupa pengembangan ide-ide invensi yang ada menjadi solusi teknis teruji melalui riset-riset. Percuma jika seorang mahasiswa hanya mendalami suatu ilmu pengetahuan untuk mendapatkan nilai A saja. Mereka harus mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan dengan sebuah kontribusi nyata yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain.
Target dari gagasan technopreneurship ini ditujukan kepada kaum masyarakat muda, terutama mahasiswa. Hal ini ditujukan untuk mengubah pola pikir mahasiswa untuk berwirausaha sehingga mengurangi ketergantungan kepada ketersediaan lapangan kerja. Bahkan dengan suksesnya gagasan ini dapat meningkatkan ketersediaan lapangan kerja secara signifikan.
Dalam memulai wirausaha berbasis teknologi, seorang technopreneur harus memperhatikan tiga hal penting yang melandasi keberhasilan dalam menjalankan usaha. Pertama, suatu usaha harus dilandasi oleh keinginan yang kuat. Semakin besar keinginan, semakin terbuka kesempatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Hal yang kedua adalah perlunya diimbangi dengan kerja keras. Bekerja dan berupaya sekuat mungkin untuk mencapai target. Hal ketiga yang tidak kalah penting adalah perlunya percaya diri. Tanpa percaya diri maka seorang technopreneur tidak akan mampu menjalankan usahanya dengan baik. Dengan sedikitnya tiga hal tersebut, maka apapun latar belakangnya atau apapun jenis usahanya, seseorang dapat mencapai titik keberhasilan.
Technopreneurship vs Entrepreneurship Biasa
Terdapat perbedaan antara entrepreneurship biasa dan technopreneurship (technology entrepreneurship).  Technology entrepreneurship harus sukses pada dua tugas utama, yakni: menjamin bahwa teknologi berfungsi sesuai kebutuhan target pelanggan, dan teknologi tersebut dapat dijual dengan mendapatkan keuntungan (profit).  Entrepreneurship biasa umumnya hanya berhubungan dengan bagian yang kedua, yakni menjual dengan mendapatkan profit.

Bisnis Lifestyle vs Bisnis Pertumbuhan Tinggi
Secara umum, ada dua jenis bisnis yang dapat membentuk technology entrepreneur(technopreneur), yakni: bisnis lifestyle dan bisnis pertumbuhan tinggi (high growth businesses).   Bisnis lifestyle adalah suatu usaha yang umumnya tidak tumbuh dengan cepat. Bisnis seperti ini biasanya tidak menarik bagi investor profesional seperti angel investor atau pemodal ventura (venture capitalist).  Bisnis tersebut tidak mempunyai potensi yang cukup untuk menghasilkan kekayaan yang signifikan.  Mengapa seseorang memulai bisnis lifestyle?  Seseorang mungkin ingin menjadi bos sendiri, mengatur jadwal sendiri, dan ingin memiliki kendali yang lebih besar.
Jenis bisnis yang lain adalah bisnis pertumbuhan tinggi.  Bisnis pertumbuhan tinggi memiliki potensi untuk menghasilkan kekayaan yang besar dengan cepat.  Jenis bisnis ini umumnya berisiko tinggi namun juga memberikan imbalan yang tinggi, sehingga menarik bagi pemodal ventura (venture capitalists).  Contoh-contoh perusahaan denan bisnis petumbuhan tinggi adalah: Dell, Genzyme, EMC, Amgen, dan Biogen-Idec.

Invensi, Inovasi, dan Technopreneur
Technopreneurship bersumber dari invensi dan inovasi.  Invensi adalah sebuah penemuan baru yang bertujuan untuk mempermudah kehidupan.  Inovasi adalah proses adopsi sebuah penemuan oleh mekanisme pasar. Invensi dan inovasi ada dua jenis, yakni: (1) invensi dan inovasi produk, dan (2) invensi dan inovasi proses.
Berbagai kemajuan yang dicapai diawali dengan riset dan temuan-temuan baru dalam bidang teknologi (invensi) yang kemudian dikembangkan sedemikan rupa sehingga memberikan keuntungan bagi penciptanya dan masyarakat penggunanya.  Fenomena perkembangan bisnis dalam bidang teknologi diawali dari ide-ide kreatif di beberapa pusat penelitian (kebanyakan di Perguruan Tinggi) yang mampu dikembangkan, sehingga memiliki nilai jual di pasar. Penggagas ide dan pencipta produk dalam bidang teknologi tersebut sering disebut dengan namatechnopreneur (teknoprener), karena mereka mampu menggabungkan antara ilmu pengetahuan yang dimiliki melalui kreasi/ide produk yang diciptakan dengan kemampuan berwirausaha melalui penjualan produk yang dihasilkan di pasar.  Dengan demikian, technopreneurship merupakan gabungan dari teknologi (kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi) dengan kewirausahaan (bekerja sendiri untuk mendatangkan keuntungan melalui proses bisnis).
Saat ini, perkembangan bisnis dalam bidang teknologi sebagian besar dihasilkan dari sinergi antara pemilik ide kreatif (technopreneur), yang umumnya berafiliasi dengan berbagai pusat riset (seperti Perguruan Tinggi), dengan penyedia modal yang akan digunakan dalam berbisnis. Hubungan antara tiga unsur tersebut yang kemudian mendorong berkembangnya bisnis teknologi yang ada di beberapa negara, misalnya di Sillicon Valley di Amerika Serikat, Bangalore di India, dan beberapa negara lainnya. Di Indonesia, sinergi ketiga pihak tersebut belum terbangun dengan baik.   Pengembangan berbagai pusat inovasi dan inkubator bisnis dalam bidang teknologi di beberapa perguruan tinggi dan lembaga riset merupakan upaya yang positif untuk membangun technopreneurhsip di Indonesia.

Peranan Technopreneurship bagi Masyarakat
Invensi dan  inovasi yang dihasilkan, serta technopreneurship tidak hanya bermanfaat dalam pengembangan industri-industri besar dan canggih.  Technopreneurship juga dapat diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lemah dan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.  Dengan demikian, technopreneurship diharapkan dapat mendukung pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
          Technopreneurship dapat memberikan memiliki manfaat atau dampak, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.  Dampaknya secara ekonomi adalah:
a.    meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
b.    meningkatkan pendapatan.
c.    menciptakan lapangan kerja baru.
d.    menggerakkan sektor-sektor ekonomi yang lain.


Referensi



Bell, C.G. 1991. High-Tech Ventures: The Guide for Entrepreneurial Success.  1st Edition. Perseus Publishing.
Ditjen HaKI Departemen Kehakiman dan HAM RI.  2004.  Daftar Permohonan Paten.
Dr. Ono Suparno, Dr. Aji Hermawan, Dr. M. Faiz Syuaib
Recognition and Mentoring Program-Institut Pertanian Bogor (RAMP-IPB)
OKEZONE.COM | HDN.OR
NCIIA. 2006.  Invention to Venture: Workshops in Technology Entrepreneurship. National Collegiate Inventors & Innovators Alliance, Madison.
Oden, H.W. 1997.  Managing Corporate Culture, Innovation, and Intrapreneurship.  Greenwood Publishing Group.
Stolze, W.J.  Start-up: An Entrepreneur’s Guide to Launching and Managing a New Business. 2ndEdition. Rock Beach Press.





Jumat, 02 November 2012


CERITA TENTANG TUKANG KULI BANGUNAN


Disini penulis akan menceritakan tentang carut-marutnya kehidupan si tukang kuli bangunan. Siapa sih tukang kuli bangunan? Ya tukang bangunan adalah sosok atau figur seseorang yang bertahan hidup dengan melakukan kerja kasar, hehe. Okeh emang agak lebay sih, jadi tukang kuli bangunan itu yang membuat atau merenovasi rumah kita. Banyak yang masih memandang mereka sebelah mata atau antara ada dan tiada (apasih). Lansung aja kita mulai pembahasannya tentang mereka, cekidot.
Kita jabarkan dulu profil si tukang bangunan tersebut mulai dari nama sebut saja dia “Rohman” hehe biar kaya berita-berita di televisi gtu, pake “sebut saja namanya” padahal emang namanya Rohman. Dia berumur 30 tahun bekerja sebagai tukang bangunan sudah 15 tahun yang lalu, berarti sejak dia berumur 15 tahun sudah bergelut dibidang perkulian yahh. Sungguh miris mendengar cerita ini, diumur yang dibilang masih cukup belia ia harus bekerja keras untuk mencari nafkah, namun disisi lain banyak anak seusia tersebut yang masih duduk dibangku sekolah tapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Beliau tinggal didaerah Jawa Barat, anak ketiga dari lima bersaudara. Istri baru satu anak tiga, anak pertama SMP kelas 3, yang kedua SD kelas 4, yang terakhir usianya baru 2 tahun.
Sejak umur 15 ia bekerja bukan sebagai tukang namun sebagai kenek (bukan yang diangkot yaa), kenek adalah istilah untuk kuli pembantu tukang, jadi kerjaannya hanya ngangkatin batu, ngaduk semen. Kalo tukang kan kerjaannya masang sama ngerancang bagaimana baiknya buat bangunan tersebut. Sebagai kenek memang lebih murah bayarannya, makanya dia sebagai kenek terus melihat, mempelajari apa yang diperbuat oleh tukangnya, akhirnya dia menjadi apa yang ia cita-citakan yaitu jadi tukang bukan lagi sekedar kenek, hasheeg.
 Lebih jauh lagi mengenai pekerjaan beliau yang agak sensitive, yaitu pendapatan kita itung bareng-bareng ya. Satu hari ia bekerja dibayar Rp. 70.000,00 tanpa makan, tapi klo dapet makan Rp. 60.000,00, lain tukang lain kenek satu hari Rp. 50.000,00 tanpa makan dan RP. 40.000,00 plus makan. Mendingan mana hayoo ??. Dan biasanya dia sering dibayar Rp. 70.000,00 /hari, coba kalau dikali satu bulan 26 hari kerja. Rp. 70.000,00 × 26 hari = Rp. 1.820.000,00 /bulan, weew lebih dari UMR kan hehe.
            Masih kurangkah ? tentu saja namanya orang gaji besar pun masih mengeluh kurang, Tanya kenapa ? karena semakin besar pendapatan biaya hidup pun semakin meningkat ya kan. Kembali ke pak Rohman, ya dibilang kurang ya kurang mas, wong saya kerja jadi kuli bangunan ga setiap hari ada kerjaan kan? Ya kalau pun ada belum tentu satu bulan penuh, kadang hanya seminggu, ya klo seminggu  cuma dapet berapa kan Rp. 350.000,00 doang. Makanya setiap ada kerjaan saya selalu gali lobang tutup lobang, dapet uang bayar utang mas. Kapan bapak merasakan banyaknya pekerjaan “tanya saya”, ya kalau mau hari raya kaya lebaran, tahun baru dan musim liburan. Ya begtulah sekelumit cerita tentang kuli bangunan. Terima kasih J

MENGENAL KEWIRAUSAHAAN


A.      Definisi
            Menurut Acmad Sanusi (1994), kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis. Menurut Soeharto Prawiro (1997), kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth). Menurut Saidi dan Hartati (2008), kewirusahaan merupakan proses penciptaan sesuatu yang baru pada nilai menggunakan waktu dan upaya penelitian, menanggung resiko keuangan, fisik, serta resiko sosial yang mengiringi, menerima imbalan moneter yang dihasilkan, serta kepuasan dan kebebasan pribadi.
Kesimpulan:
            Kewirausahaan adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang yang membutuhkan tenaga, uang, serta pemikiran yang kreatif dan inovatif untuk mencapai tujuan yaitu kepuasan dan kebebasan dalam melakukan pekerjaan (Wicaksono, 2012).

Zaman dulu kewirausahaan merupakan urusan pengalaman langsung di lapangan. Namun kewirausahaan itu bukan hanya merupakan bakat bawaan sejak lahir, namun kewirausahaan dapat dipelajari dan diajarkan. Dipelajari melalui proses pendidikan dan diajarkan melalui proses pendidikan formal atau informal. Menurut Suyana (2009:2) bahwa “Entrepreneurship are not only born but also made” artinya kewirausahaan tidak hanya bakat bawaan sejak lahir atau urusan pengalaman lapangan, tetapi juga dapat dipelajari dan diajarkan.
Objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan seseorang yang diwujudkan dalam bentuk perilaku. Menurut Soparman Soemahamidjaja (dalam Suryana, 2009:4) bahwa kemampuan seseorang yang menjadi objek kewirausahaan meliputi:
·         Kemampuan merumuskan tujuan hidup/usaha. Dalam merumuskan tujuan hidup/usaha tersebut perlu perenungan, koreksi yang kemudian berulang-ulang di baca dan diamati sampai memahami apa yang menjadi kemauannya
·         Kemampuan memotivasi diri untuk melahirkan suatu tekad kemauan yang menyala-nyala
·         Kemampuan untuk berinisiatif yaitu mengerjakan sesuatu yang baik tanpa menunggu perintah orang lain, yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan berinisiatif
·         Kebiasaan berinisiatif yang melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah dibiasakan berulang-ulang akan melahirkan motivasi. Kebiasaan inovatif adalah desakan dalam diri untuk selalu mencari berbagai kemungkinan baru atau kombinasi baru apa saja yang dapat dijadikan piranti dalam menyajikan barang dan jasa bagi kemakmuran masyarakat.
·         Kemampuan untuk membentuk modal uang atau barang modal
·         Kemampuan untuk mengukur waktu dan membiasakn diri untuk selalu tepat waktu dalam segala hal tindakannya melalui kebiasaan yang selalu tidak menunda pekerjaan
·         Kemampuan mental yang dilandasi dengan agama
·         Kemampuan untuk membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari pengalaman yang baik maupun yang menyajikan

B.      Ciri-ciri Kewirausahaan
Banyak para ahli yang mengemukakan karakteristik kewirausahaan dengan konsep yang berbeda-beda. Geoffrey G. Meredith (dalam Suryana, 2001:8) misalnya mengemukakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan seperti berikut:



Ciri-ciri
Watak
1.      1.      Percaya diri

1.      2.      Berorientasi pada tugas dan hasil




1.      3.      Pengambilan resiko

1.      4.      Kepemimpinan


1.      5.      Keorisinilan

1.      6.      Berorientasi ke masa depan
Keyakinan, ketidaktergantungan, individualitas, dan optimisme
Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras mempunyai dorongan kuat, energetik dan inisiatif
Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan
Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik
Inovatif dan kreatif serta fleksibel
Pandangan ke depan, perspektif


Beberapa ciri kewirausahaan secara ringkas dikemukakan oleh Vermon A musselman, Wasty Sumanto dan Geoffrey Meredith (dalam Suryana, 2009:10) yaitu: (1) keinginan yang kuat untuk berdiri sendiri,
(2) kemauan untuk mengambil risiko,
(3) kemampuan untuk belajar dari pengalaman,
(4) memotivasi diri sendiri,
(5) semangat untuk bersaing,
(6) orientasi pada kerja keras,
(7) percaya pada diri sendiri,
(8) dorongan untuk berprestasi,
(9) tingkat energi yang tinggi,
(10) tegas,
(11) yakin pada kemampuan sendiri,
(12) tidak suka uluran tangan dari pemerintah/pihak lain di masyarakat,
(13) tidak tergantung pada alam dan berusaha untuk tidak menyerah pada alam,
(14) kepemimpinan,
(15) keorisinilan, dan
(16) berorientasi ke masa depan dan penuh gagasan.

Menurut M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (dalam Suryana, 2001:10) mengemukakan karakteristik kewirausahaan yang berhasil, diantaranya memiliki ciri-ciri:
·         Proaktif, yaitu berinisiatif dan tegas
·         Berorientasi pada prestasi, yang tercermin dalam pandangan dan bertindak terhadap peluang, orientasi efisiensi, mengutamakan kualitas pekerjaan, berencana, dan mengutamakan monitoring
·         Komitmen kepada orang lain, misalnya dalam mengadakan kontrak dan hubungan bisnis
Secara eksplisit, Dan Steinnhoff dan John F Burgess (dalam Suryana, 2001:10) mengemukakan beberapa karakteristik yang diperlukan untuk menjadi wirausaha yang berhasil, yaitu:
·         Memiliki visi dan tujuan yang jelas
·         Bersedia menanggung risiko waktu dan uang
·         Berencana dan mengorganisir
·         Kerja keras sesuai dengan tingkat urgensinya
·         Mengembangkan hubungan dengan pelanggan, pemasok, pekerja, dan yang lainnya
·         Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan
Menurut Suryana (2001:14) ada empat nilai dengan orientasi dan ciri masing-masing yaitu:
·         Wirausaha yang berorientasi kemajuan untuk memperoleh materi, ciri-cirinya pengambil risiko, terbuka terhadap teknologi, dan mengutamakan materi
·         Wirausaha yang berorientasi pada kemajuan tetapi bukan untuk mengejar materi. Wirausaha ini hanya ingin mewujudkan rasa tanggung jawab, pelayanan, sikap positif, dan kreativitas
·         Wirausaha yang berorientasi pada materi, dengan berpatokan pada kebiasaan sudah yang ada, misalnya dalam perhitungan usaha dengan kira-kira, sering menghadap ke arah tertentu supaya berhasil
·         Wirausaha yang berorientasi pada non=materi, dengan bekerja berdasarkan kebiasaan, wirausaha model ini biasanya tergantung pada pengalaman, berhitung dengan menggunakan mistik, paham etnosentris, dan taat pada tata cara leluhur



DAFTAR PUSTAKA

Suharyadi., Nugroho. A., Purwanto., & Maman. F. Kewirausahaan Membangun Usaha Sukses Sejak usia Muda. Salemba Empat: Jakarta
Suryana. 2001. Kewirausahaan. Salemba Empat: Jakarta