TECHNOPRENEURSHIP
Apa Technopreneurship?
Mendefinisikan technopreneurship (technology
entrepreneurship) hal yang harus perhatikan adalah penelitian dan
komersialisasi. Penelitian merupakan penemuan dan penambahan pada ilmu
pengetahuan. Komersialisasi dapat didefinisikan sebagai pemindahan hasil
penelitian atau teknologi dari laboratorium ke pasar dengan cara yang
menguntungkan. Ada sejumlah jalan untuk mengkomersialisasi teknologi,
yakni: lisensi, berpartner, atau menjualnya kepada pihak lain yang akan
mengkomersialisasikannya.
Teknologi merupakan cara atau metode untuk mengolah sesuatu
agar terjadi efisiensi biaya dan waktu, sehingga dapat menghasilkan produk yang
lebih berkualitas. Dasar-dasar penciptaan tekologi adalah: kebutuhan pasar,
solusi atas permasalahan, aplikasi berbagai bidang keilmuan, perbaikan
efektivitas dan efisiensi produksi, serta modernisasi.
Istilah
technopreneur itu sendiri adalah gabungan antara technology dan entrepreneur.
Kata entrepreneur memiliki makna seseorang yang pandai atau berbakat dalam
mengenali produk atau ide baru, memahami langkah-langkah produksi, mampu
menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, cermat dalam memasarkannya, serta
handal mengatur permodalan operasinya. Singkatnya, seorang technopreneur adalah
seorang entrepreneur yang menggunakan aspek teknologi sebagai keunggulannya.
Antara technopreneur dan entrepreneur keduanya memiliki persamaan yaitu peduli
profit. Namun seorang technopreneur juga harus peduli teknologi. Bentuk
keperduliannya itu bisa berupa pengembangan ide-ide invensi yang ada menjadi
solusi teknis teruji melalui riset-riset. Percuma jika seorang mahasiswa hanya
mendalami suatu ilmu pengetahuan untuk mendapatkan nilai A saja. Mereka harus
mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan dengan sebuah kontribusi nyata yang
berguna bagi diri sendiri dan orang lain.
Target
dari gagasan technopreneurship ini ditujukan kepada kaum masyarakat muda,
terutama mahasiswa. Hal ini ditujukan untuk mengubah pola pikir mahasiswa untuk
berwirausaha sehingga mengurangi ketergantungan kepada ketersediaan lapangan
kerja. Bahkan dengan suksesnya gagasan ini dapat meningkatkan ketersediaan
lapangan kerja secara signifikan.
Dalam
memulai wirausaha berbasis teknologi, seorang technopreneur harus memperhatikan
tiga hal penting yang melandasi keberhasilan dalam menjalankan usaha. Pertama,
suatu usaha harus dilandasi oleh keinginan yang kuat. Semakin besar keinginan,
semakin terbuka kesempatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Hal yang
kedua adalah perlunya diimbangi dengan kerja keras. Bekerja dan berupaya sekuat
mungkin untuk mencapai target. Hal ketiga yang tidak kalah penting adalah
perlunya percaya diri. Tanpa percaya diri maka seorang technopreneur tidak akan
mampu menjalankan usahanya dengan baik. Dengan sedikitnya tiga hal tersebut,
maka apapun latar belakangnya atau apapun jenis usahanya, seseorang dapat
mencapai titik keberhasilan.
Technopreneurship vs Entrepreneurship Biasa
Terdapat
perbedaan antara entrepreneurship biasa dan technopreneurship (technology entrepreneurship). Technology
entrepreneurship harus
sukses pada dua tugas utama, yakni: menjamin bahwa teknologi berfungsi sesuai
kebutuhan target pelanggan, dan teknologi tersebut dapat dijual dengan
mendapatkan keuntungan (profit). Entrepreneurship biasa umumnya hanya berhubungan dengan
bagian yang kedua, yakni menjual dengan mendapatkan profit.
Bisnis Lifestyle vs Bisnis Pertumbuhan Tinggi
Secara
umum, ada dua jenis bisnis yang dapat membentuk technology
entrepreneur(technopreneur),
yakni: bisnis lifestyle dan bisnis pertumbuhan tinggi (high growth businesses).
Bisnis lifestyle adalah suatu usaha yang umumnya tidak
tumbuh dengan cepat. Bisnis seperti ini biasanya tidak menarik bagi investor profesional seperti angel
investor atau
pemodal ventura (venture
capitalist). Bisnis tersebut tidak mempunyai potensi yang
cukup untuk menghasilkan kekayaan yang signifikan. Mengapa seseorang
memulai bisnis lifestyle?
Seseorang mungkin ingin menjadi bos sendiri, mengatur jadwal sendiri, dan
ingin memiliki kendali yang lebih besar.
Jenis
bisnis yang lain adalah bisnis pertumbuhan tinggi. Bisnis pertumbuhan
tinggi memiliki potensi untuk menghasilkan kekayaan yang besar dengan
cepat. Jenis bisnis ini umumnya berisiko tinggi namun juga memberikan
imbalan yang tinggi, sehingga menarik bagi pemodal ventura (venture capitalists).
Contoh-contoh perusahaan denan bisnis petumbuhan tinggi adalah: Dell, Genzyme,
EMC, Amgen, dan Biogen-Idec.
Invensi, Inovasi, dan Technopreneur
Technopreneurship bersumber dari invensi dan
inovasi. Invensi adalah sebuah penemuan baru yang bertujuan untuk
mempermudah kehidupan. Inovasi adalah proses adopsi sebuah penemuan oleh
mekanisme pasar. Invensi dan inovasi ada dua jenis, yakni: (1) invensi dan
inovasi produk, dan (2) invensi dan inovasi proses.
Berbagai kemajuan yang dicapai
diawali dengan riset dan temuan-temuan baru dalam bidang teknologi (invensi)
yang kemudian dikembangkan sedemikan rupa sehingga memberikan keuntungan bagi
penciptanya dan masyarakat penggunanya. Fenomena perkembangan bisnis
dalam bidang teknologi diawali dari ide-ide kreatif di beberapa pusat
penelitian (kebanyakan di Perguruan Tinggi) yang mampu dikembangkan, sehingga
memiliki nilai jual di pasar. Penggagas ide dan pencipta produk dalam bidang
teknologi tersebut sering disebut dengan namatechnopreneur (teknoprener), karena mereka mampu
menggabungkan antara ilmu pengetahuan yang dimiliki melalui kreasi/ide produk
yang diciptakan dengan kemampuan berwirausaha melalui penjualan produk yang
dihasilkan di pasar. Dengan demikian, technopreneurship merupakan gabungan dari teknologi
(kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi) dengan kewirausahaan (bekerja
sendiri untuk mendatangkan keuntungan melalui proses bisnis).
Saat
ini, perkembangan bisnis dalam bidang teknologi sebagian besar dihasilkan dari
sinergi antara pemilik ide kreatif (technopreneur),
yang umumnya berafiliasi dengan berbagai pusat riset (seperti Perguruan
Tinggi), dengan penyedia modal yang akan digunakan dalam berbisnis. Hubungan
antara tiga unsur tersebut yang kemudian mendorong berkembangnya bisnis
teknologi yang ada di beberapa negara, misalnya di Sillicon Valley di Amerika
Serikat, Bangalore di India, dan beberapa negara lainnya. Di Indonesia, sinergi
ketiga pihak tersebut belum terbangun dengan baik. Pengembangan
berbagai pusat inovasi dan inkubator bisnis dalam bidang teknologi di beberapa
perguruan tinggi dan lembaga riset merupakan upaya yang positif untuk membangun
technopreneurhsip di Indonesia.
Peranan Technopreneurship bagi Masyarakat
Invensi dan inovasi yang
dihasilkan, serta technopreneurship tidak hanya bermanfaat dalam
pengembangan industri-industri besar dan canggih. Technopreneurship juga dapat diarahkan untuk memberikan
manfaat kepada masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lemah dan untuk
meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan demikian, technopreneurship diharapkan dapat mendukung pembangunan
berkelanjutan (sustainable
development).
Technopreneurship dapat memberikan memiliki manfaat atau
dampak, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Dampaknya secara
ekonomi adalah:
a.
meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
b.
meningkatkan pendapatan.
c.
menciptakan lapangan kerja baru.
d.
menggerakkan sektor-sektor ekonomi yang lain.
Referensi
Bell, C.G. 1991. High-Tech
Ventures: The Guide for Entrepreneurial Success. 1st Edition. Perseus Publishing.
Ditjen HaKI Departemen
Kehakiman dan HAM RI. 2004. Daftar Permohonan Paten.
Dr. Ono Suparno, Dr. Aji
Hermawan, Dr. M. Faiz Syuaib
Recognition and Mentoring
Program-Institut Pertanian Bogor (RAMP-IPB)
OKEZONE.COM | HDN.OR
NCIIA. 2006. Invention to
Venture: Workshops in Technology Entrepreneurship. National Collegiate
Inventors & Innovators Alliance, Madison.
Oden, H.W. 1997. Managing
Corporate Culture, Innovation, and Intrapreneurship. Greenwood Publishing
Group.
Stolze, W.J. Start-up: An
Entrepreneur’s Guide to Launching and Managing a New Business. 2ndEdition.
Rock Beach Press.
Keren sob
BalasHapuswww.kiostiket.com